Kuartal II 2026 · Survei nasional 276 anggota Kadin di 27 provinsi · Margin of error ±5,9% (95% CI)
Sentimen melemah tiga kuartal berturut-turut. Berbeda dari kuartal lalu, pergeseran kali ini terjadi langsung dari kelompok netral ("Biasa Saja") ke sentimen negatif — pelaku usaha kini lebih tegas menilai kondisi memburuk, bukan sekadar wait-and-see.
Minat investasi terus menurun setiap kuartal. Berbeda dari tren Q1‑26, kali ini proporsi "Biasa Saja" relatif stabil — pergeseran murni berasal dari kelompok yang tadinya optimis kini berbalik pesimis.
Birokrasi & regulasi naik menjadi tantangan #1 (16,4%, salah satunya didorong aturan RKAB di sektor pertambangan), menggeser kebijakan & program pemerintah ke posisi kedua. Ketidakpastian hukum dan bahan baku impor juga meningkat signifikan, sejalan tekanan Rupiah.
Perkembangan pasar tetap jadi penopang utama optimisme dan justru menguat, didukung kondisi pasar internasional yang membaik seiring meredanya konflik geopolitik Timur Tengah. Perkembangan teknologi menurun tajam, meski pemanfaatan AI masih jadi salah satu pendorongnya.
Topik khusus kuartal ini — pelemahan Rupiah beberapa bulan terakhir dinilai memberi tekanan luas pada biaya operasional dan margin usaha, sekaligus jadi risiko dan syarat pemulihan kepercayaan yang paling banyak disebut pelaku usaha.
30,1% menilai sangat negatif dan 35,1% cukup negatif — hanya 8,3% melihat sisi positif seperti peningkatan daya saing atau pendapatan ekspor.
Persepsi bisnis & sektor industri Q2‑2026 terus melemah, diikuti sikap hati-hati melalui penurunan rencana investasi 6 bulan ke depan. Usaha Kecil & Menengah paling rentan di kedua indikator.
65,2% pelaku usaha menilai pelemahan Rupiah berdampak negatif terhadap prospek bisnis, terutama lewat kenaikan biaya operasional (23,1%) — sekaligus jadi risiko dan syarat pemulihan kepercayaan utama.
Pelaku usaha menghadapi tantangan birokrasi & kebijakan pemerintah, namun tetap optimistis Q3‑2026 membaik seiring harapan perbaikan kebijakan pusat (35,9%) dan pulihnya pasar internasional (23,6%).
Pemerintah perlu memprioritaskan stabilisasi nilai tukar Rupiah serta kepastian arah kebijakan dan penyederhanaan birokrasi, mengingat keduanya menjadi sumber tekanan sekaligus harapan utama pelaku usaha di tengah pelemahan bisnis yang terus berlanjut. Dukungan afirmatif seperti kemudahan akses pembiayaan perlu diarahkan khusus kepada usaha Kecil dan Menengah yang paling rentan terhadap tekanan nilai tukar saat ini.