KADIN INDONESIA INSTITUTE

Business Pulse — Persepsi & Outlook Dunia Usaha Indonesia

Kuartal II 2026 · Survei nasional 276 anggota Kadin di 27 provinsi · Margin of error ±5,9% (95% CI)

Q2‑2026 Periode: 13–30 Juni 2026 Fokus: Pelemahan Rupiah Publikasi: 15 Juli 2026
22,8%
Pelaku usaha menilai kondisi bisnis membaik
▼ 2,4 pp vs Q1‑26 (25,2%)
22,5%
Pelaku usaha menilai kondisi sektor membaik
▼ 0,4 pp vs Q1‑26 (22,9%)
34,4%
Berencana investasi 6 bulan ke depan
▼ 4,2 pp vs Q1‑26 (38,6%)
65,2%
Menilai pelemahan Rupiah berdampak negatif
vs hanya 8,3% positif
01

Kondisi Bisnis & Sektor Industri

Sentimen melemah tiga kuartal berturut-turut. Berbeda dari kuartal lalu, pergeseran kali ini terjadi langsung dari kelompok netral ("Biasa Saja") ke sentimen negatif — pelaku usaha kini lebih tegas menilai kondisi memburuk, bukan sekadar wait-and-see.

Kondisi Bisnis Lebih Baik dari Kuartal Lalu?

Tidak setuju naik bertahap: 34,8% (Q4‑25) → 40,5% (Q1‑26) → 47,1% (Q2‑26)

Kondisi Sektor Industri Lebih Baik dari Kuartal Lalu?

Tidak setuju melonjak lebih tajam: 35,5% (Q4‑25) → 44,3% (Q1‑26) → 51,8% (Q2‑26)
Berdasarkan skala usaha

Kondisi Bisnis Q2‑2026 menurut Klasifikasi Usaha

Usaha Kecil & Menengah paling terdampak (50,6% memburuk, hanya 14,3% membaik) — tidak memiliki fleksibilitas biaya usaha Mikro maupun kapasitas modal usaha Besar.
02

Rencana Investasi 6 Bulan Ke Depan

Minat investasi terus menurun setiap kuartal. Berbeda dari tren Q1‑26, kali ini proporsi "Biasa Saja" relatif stabil — pergeseran murni berasal dari kelompok yang tadinya optimis kini berbalik pesimis.

Rencana Investasi — Tren 3 Kuartal

Setuju turun dari 47,1% (Q4‑25) → 38,6% (Q1‑26) → 34,4% (Q2‑26); Tidak Setuju naik ke 43,5%
Berdasarkan skala usaha

Rencana Investasi Q2‑2026 menurut Klasifikasi Usaha

Usaha Kecil & Menengah paling tertahan (58,4% tidak setuju berinvestasi), sementara Usaha Besar justru condong optimis (40,0% setuju, tertinggi di antara ketiganya).
03

Tantangan Utama Bisnis

Birokrasi & regulasi naik menjadi tantangan #1 (16,4%, salah satunya didorong aturan RKAB di sektor pertambangan), menggeser kebijakan & program pemerintah ke posisi kedua. Ketidakpastian hukum dan bahan baku impor juga meningkat signifikan, sejalan tekanan Rupiah.

Tantangan Utama Bisnis — Q2 vs Q1 2026

Berdasarkan skala usaha
Usaha Mikro
Usaha Kecil & Menengah
Usaha Besar
Usaha Mikro paling terbebani akses pembiayaan (23,9%); Usaha Kecil & Menengah paling terbebani birokrasi (26,5%); Usaha Besar paling terbebani ketidakpastian hukum & birokrasi (masing‑masing 26,1%) — pola yang menunjukkan makin besar usaha, makin sensitif terhadap kepastian regulasi ketimbang permodalan.
04

Perkembangan Positif Bisnis

Perkembangan pasar tetap jadi penopang utama optimisme dan justru menguat, didukung kondisi pasar internasional yang membaik seiring meredanya konflik geopolitik Timur Tengah. Perkembangan teknologi menurun tajam, meski pemanfaatan AI masih jadi salah satu pendorongnya.

Perkembangan Positif Bisnis — Q2 vs Q1 2026

Berdasarkan skala usaha
Usaha Mikro
Usaha Kecil & Menengah
Usaha Besar
Usaha Mikro & Kecil‑Menengah paling terdorong oleh perluasan pasar; Usaha Besar justru paling terdorong oleh inovasi teknologi (35,0%) — menunjukkan perbedaan sumber daya saing antar skala usaha.
05

Faktor Keyakinan Kondisi Bisnis Membaik di Q3‑2026

Apa yang paling meyakinkan bahwa kondisi akan membaik?

Kebijakan pemerintah pusat tetap dominan meski melemah (39,5% → 35,9%); tren pasar dunia/internasional justru melonjak (16,2% → 23,6%) seiring meredanya konflik geopolitik.
Berdasarkan skala usaha
Usaha Mikro
Usaha Kecil & Menengah
Usaha Besar
Usaha Mikro dan Kecil‑Menengah paling menggantungkan harapan pada kebijakan pemerintah pusat (43–45%); Usaha Besar justru lebih mengandalkan tren pasar global (32,6%) dibanding kebijakan domestik.
06

Fokus Q2‑2026: Dampak Pelemahan Rupiah

Topik khusus kuartal ini — pelemahan Rupiah beberapa bulan terakhir dinilai memberi tekanan luas pada biaya operasional dan margin usaha, sekaligus jadi risiko dan syarat pemulihan kepercayaan yang paling banyak disebut pelaku usaha.

65,2%
Menilai berdampak negatif

Prospek bisnis 12 bulan ke depan akibat pelemahan Rupiah

30,1% menilai sangat negatif dan 35,1% cukup negatif — hanya 8,3% melihat sisi positif seperti peningkatan daya saing atau pendapatan ekspor.

Sangat negatif 30,1% Cukup negatif 35,1% Netral 26,4% Positif 8,3%

Dampak Spesifik ke Perusahaan (6–12 Bulan)

Kenaikan biaya operasional (23,1%) paling dirasakan — pelemahan Rupiah paling berdampak lewat sisi pengeluaran, bukan pendapatan.

Dampak vs Prospek Bisnis (Top 5)

Tekanan margin & kenaikan bahan baku impor paling erat terkait pandangan negatif terhadap prospek bisnis.

Faktor Pemulihan Kepercayaan Investor

Stabilisasi kurs jadi prioritas tertinggi (26,1%), diikuti kepastian regulasi dan kejelasan kebijakan fiskal.

Pemulihan vs Prospek Bisnis (Top 5)

Kelompok pesimistis adalah yang paling banyak memilih stabilisasi Rupiah sebagai faktor pemulihan utama (75,4%).

Risiko Terbesar bagi Perusahaan Saat Ini

Ketidakpastian arah kebijakan ekonomi (33,7%) melampaui risiko kurs itu sendiri sebagai risiko terbesar.

Risiko vs Prospek Bisnis (Top 5)

Pelemahan Rupiah (76,9%) dan permintaan domestik (73,2%) paling terkait dengan pandangan negatif prospek bisnis.
07

Profil Responden

Sektor Usaha (Top 5)

Provinsi (Top 5)

Omzet / Tahun

Jenis Kelamin

Jumlah Tenaga Kerja

08

Kesimpulan & Saran

Kesimpulan 1

Persepsi bisnis & sektor industri Q2‑2026 terus melemah, diikuti sikap hati-hati melalui penurunan rencana investasi 6 bulan ke depan. Usaha Kecil & Menengah paling rentan di kedua indikator.

Kesimpulan 2

65,2% pelaku usaha menilai pelemahan Rupiah berdampak negatif terhadap prospek bisnis, terutama lewat kenaikan biaya operasional (23,1%) — sekaligus jadi risiko dan syarat pemulihan kepercayaan utama.

Kesimpulan 3

Pelaku usaha menghadapi tantangan birokrasi & kebijakan pemerintah, namun tetap optimistis Q3‑2026 membaik seiring harapan perbaikan kebijakan pusat (35,9%) dan pulihnya pasar internasional (23,6%).

Saran KII

Pemerintah perlu memprioritaskan stabilisasi nilai tukar Rupiah serta kepastian arah kebijakan dan penyederhanaan birokrasi, mengingat keduanya menjadi sumber tekanan sekaligus harapan utama pelaku usaha di tengah pelemahan bisnis yang terus berlanjut. Dukungan afirmatif seperti kemudahan akses pembiayaan perlu diarahkan khusus kepada usaha Kecil dan Menengah yang paling rentan terhadap tekanan nilai tukar saat ini.